by

Dibalik 98: Kisah Perjuangan Mahasiswa Indonesia

Dibalik 98 menceritakan kisah revolusi Indonesia pada tahun 1998, yang mengakibatkan jatuhnya presiden Suharto selama tiga dekade. Film yang menjadi salah satu film terlaris di tahun 2015 ini menunjukkan bagaimana Reformasi 1998 masih menjadi bagian sejarah yang sangat menarik bagi milenium Indonesia, meskipun banyak orang memiliki pandangan yang berlawanan mengenai hal ini.

Film ini disutradarai oleh aktor kawakan Indonesia Lukman Sardi (dari 7/24 dan Rainbow Troops fame), dan di antara para pemain ansambel adalah Chelsea Islan ( Merry Riana ), Boy William ( Komik 8)), Donny Alamsyah ( The Raid ) dan Agus Kuncoro ( Garuda Superhero ). Chelsea Islan, yang mendapatkan peran utama mengungkapkan bahwa dirinya suka dengan sejarah. Dengan berperan serta dalam film Dibalik 98 ini, ia dapat ambil bagian dalam mendidik masyarakat.

Kemampuan para pemeran dalam film ini dalam reka ulang kejadian nyata di tahun 1998 telah membawa film ini pada piala Indonesia Movie Award 2015, untuk kategori Film Terbaik. Bukan itu saja, film ini juga meraih piala untuk kategori Soundtrack Terfavorit.

Film yang berdurasi 120 menit ini memang menjadi inspirasi saat terjadi aksi demo mahasiswa beberapa minggu terakhir ini. Namun tidak dapat disangkal bahwa film ini dapat memberikan gambaran pada generasi milenial sekarang mengenai sejarah yang menimbulkan banyak korban jiwa di masa lalu dapat memberikan kebebasan berpendapat seperti yang mereka rasakan sekarang.

Peristiwa 1998 memang menjadi tonggak berakhirnya Orde Baru dan lengsernya preseiden kedua RI, Soeharto. Kondisi Indonesia yang memanas kala itu dipicu oleh nilai rupiah yang merosot hingga Rp 11.050.

Kondisi perekonomian yang bergejolak akhirnya memaksa rakyat untuk menuntut reformasi kepemimpinan. Mahasiswa pun turun ke jalan untuk menuntut keadilan. Namun aksi demo tersebut berujung pada tragedi Trisakti, dimana empat orang mahasiswa Universitas Trisakti tertembak timah panas.

Peristiwa yang terjadi pada tanggal 13 dan 14 Mei 1998 tersebut membuat kota Jakarta lumpuh dan menimbulkan kerugian hingga Rp 2.5 triliun. Tuntutan para mahasiswa tersebut akhirnya memaksa Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai orang nomor satu di Indonesia pada 21 Mei 1998.

Comment

News Feed