by

Siapa Ani Idrus Yang Menjadi Tema Google Doodle Hari ini?

Doodle hari ini merayakan jurnalis dan aktivis Indonesia yang tak kenal takut, Ani Idrus pada hari ulang tahunnya yang ke-101. Beliau merupakan pendiri salah satu surat kabar harian Indonesia terlama pada tahun 1947 dan masih aktif hingga hari ini, Harian Waspada. Ibu Ani Idrus menjadi kekuatan utama dalam jurnalisme, pendidikan, dan politik negara. 

Sejak dilahirkan pada hari ini pada tahun 1918 di Sumatra Barat, kehidupan Ani Idrus memberikan perubahan besar. Setelah mengenyam pendidikan di Sawahlunto, Ani Idrus pindah ke kota Medan dan bersekolah di Sekolah Madrasah yang berlokasi di Jalan Antara ujung, Medan.

Ani kemudian melanjutkan pendidikannya di Methodist English School. Ia juga pernah bersekolah di Meisjeskop School, Mula, hingga SMA umum. Ani mengambil jurusan hukum di UISU Medan pada tahun 1962 hingga 1965.

10 tahun kemudian ia menjadi mahasiswa Fisipol di kampus yang sama. Pada 19 Juli 1990, Ani berhasil menyelesaikan sidang akhir untuk mendapatkan gelar doctoranda dalam bidang Ilmu Sosial Politik.

Setelah mantap untuk memilih karir sebagai seorang jurnalis pada 1930-an, Ia bergabung dengan majalah Panji Pustaka jakarta. Tiga tahun kemudian, Ani menjadi staf pembantu di sebuah majalah Politik Penyedar.

Di tahun 1938, Ani Idrus mempublikasikan Seruan Kita, sebuah majalah politik yang dibuat bersama M.Moh.Said. Selain itu, Ani dan Moh Said juga membuat Harian Waspada. Tak lama setelahnya, majalah Dunia Wanita pun terlahir.

Ani Idrus juga bertindak sebagai koresponden asing selama lebih dari satu dekade sebelum merilis edisi pertama dari majalah Dunia wanita. Bahkan atas dedikasinya di dunia jurnalistik selama 25 tahun, Ani mendapatkan penghargaan dari PWI cabang medan pada tahun 1959. Pada tahun 1988, Ani Idrus memenangkan Satya Press Award sebagai pengakuan atas prestasinya dalam jurnalisme.

Dalam tugasnya sebagai seorang jurnalis, Ani Idrus sering berkunjung ke berbagai negara. Pengalamannya sebagai seorang jurnalis tentunya tidak lepas dari dunia politik Indonesia. Karenanya tidak aneh jika Ani juga memiliki segudang prestasi dalam bidang politik.

Dari mulai menjadi anggota organisasi Indonesia Muda pada tahun 1934. Di tahun berikutnya, Ani masuk dalam partai Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) di Medan.  Dua tahun setelahnya, Ani bergabung dengan Partai Nasional Indonesia.

Tidak hanya itu saja, Ani juga mendirikan Wanita Marhaenis dan menjadi Komisaris Provinsi dari Wanita Demokrat. Pada tahun 1960 hingga 1967, Ani diangkat menjadi anggota DPRGR Tingkat I Sumut.

Di tahun 1961, Ani diangkat sebagai wakil sekjen Front Nasional Sumatra Utara yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia. Di tahun  1984, Ani Idrus mendapat kehormatan untuk menjabat sebagai penasehat Ikatan keluarga Wartawan Indonesia.

Sebagai anggota gerakan politik Indonesia Muda, aktivitas Idrus terus berkembang. Dia menghadiri Kongres Perempuan Pertama Indonesia, yang membawanya untuk memimpin Front Perempuan Sumatera Utara dan menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Front Nasional Sumatera Utara.

Berkaitan erat dengan pengabdian Idrus pada hal-hal yang menguntungkan perempuan Indonesia adalah dorongannya untuk meningkatkan pendidikan di seluruh negeri. Dampaknya pada sistem pendidikan ditandai dengan pembukaan delapan sekolah, pendirian Yayasan Pendidikan Ani Idrus (YPAI), serta layanannya sebagai Ketua Sekolah Sepak Bola Waspada.

Di tahun 1953, Ani Idrus mendirikan Taman Idria yang berfungsi sebagai tempat penitipan anak, sekolah taman kanak-kanak, dan juga sekolah dasar. Yayasan yang dibangunnya juga mendirikan berbagai sekolah seperti SD Katlia. SD ini kemudian berubah fungsi menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan atau STIKP pada tahun 1987.  Ani juga mendirikan Madrasah Ibtidaiyah dan masjid di samping bangunan sekolah tersebut.

Karena peran sertanya dan juga misinya untuk meningkatkan kehidupan orang Indonesia di seluruh nusantara, terutama perempuan dan anak-anak, Ani Idrus diabadikan menjadi sebuah desain perangko pada tahun 2004.

Mungkin mustahil untuk mengetahui berapa banyak kehidupan yang secara positif dipengaruhi oleh upayanya yang tak kenal lelah dalam jurnalisme, pendidikan, atau politik, tetapi pekerjaannya berdiri sebagai monumen untuk prinsip-prinsipnya. Pelajaran apa yang bisa kamu petik dari sosok wanita pemimpin Harian Waspada ini?

Artikel lainnya:

Comment

News Feed