by

Anies Baswedan Disebut Walhi Kurang Tegas Tangani Banjir Jakarta

Rentetan.com – Rabu, (26/02/20), Penyebab banjir Jakarta menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) akibat banyaknya bangunan di ibukota yang melanggar konsep tata ruang yang antara lain karena kurang tegasnya pimpinan di Jakarta untuk menegakkan aturan. Walhi sebut Anies Baswedan kurang berani menangani penertiban aturan terkait banjir.

Menurut Dwi Sawung selaku Manager Kampanye Perkotaan dan Energi Walhi, pemerintah daerah mengabaikan fungsi lahan hijau serta memberikan izin pendirian bangunan. Berdasarkan catatan Walhi, ditemukan bahwa sektor properti ini paling banyak melanggar konsep tata ruang yang baik, selanjutnya diikuti dengan mal.

Ia juga mengatakan, bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak memiliki keberanian untuk melakukan penertiban pada bangunan-bangunan yang dinilai sebagai penyebab banjir. Walhi sebut Anies Baswedan masih kurang tegas dalam mengangani permasalahan ini.

Banyaknya bangunan-bangunan yang disebut sebagai penyebab banjir ini dibarengi dengan kondisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berkurang, padahal area ini seharusnya menjadi daerah resapan air.

“Kita enggak ada pertambahan RTH malah dan yang saya tahu banyak beberapa RTH kualitasnya berkurang,” jelas Dwi.

Sedangkan menurut Direktur Eksekutif Walhi Jakarta Tubagus Soleh Ahmadi, saat ini Jakarta mengalami degradasi lahan yang cukup serius.

“Upaya pemulihan lingkungan hidups di DKI Jakarta itu belum berjalan secara signifikan dan serius dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” terang Tubagus.

Sementara itu kondisi cuaca di Indonesia yang belakangan ini ekstrem, menurutnya diakibatkan pemanasan global yang semakin parah.

Sampai Rabu (26/02) pagi ini, dilaporkan beberapa kawasan di Jakarta masih digenangi air. Dikutip dari akun resmi Polda Metro Jaya @TMCPoldaMetro air dengan ketinggian 10-20 cm terlihat menggenangi Jalan Kayu Putih, Jakarta Timur. Namun, jalan masih dapat dilalui oleh kendaraan bermotor.

Di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara air juga masih menggenang. Jalan di depan mal Kelapa Gading, yakni Boulevard Raya ketinggiannya mencapau 25 cm. sejumlah perumahan di Jakarta Utara juga masih dilanda banjir, yakni di Perumahan Tipar Timur dan Semper Barat. Ketinggian air di kedua perumahan ini berdampak pada aktivitas warga yang terhambat.

Sementara di Jakarta Barat, air setinggi 20 cm menggenani jalan Ringroad Kembangan menuju Ciledug. Meski masih dapat dilalui sepeda motor, namun pengendara harus berhati-hati. Selain itu jalan panjang hingga depan McDonald Green Garden, ketinggian air juga capai 20 cm.

Dampak banjir Jakarta ini juga menyebabkan Gerbang Tol Cempaka Putih  tak bisa beroperasi, karena alat ektronik yang rusak terendam banjir. Sehingga pengendara mobil dialihkan ke Gerbang Tol Rawamangun.

Begitu juga dengan Pintu Keluar KBN Cakung. Karena banjir, pengendara mobil tidak bisa keluar melalui Tol KBN Cakung ini.

Sementara itu, Anies Baswedan melaporkan jumlah sekolah yang terdampak banjir Jakarta mencapai 375. Yakni, sekitar 4.7 persen sekolah di seluruh Jakarta.

Sekolah yang terendam banjir tersebut menurut Anies Baswedan memiliki ketinggian air yang beragam. Mulai dari 20 cm hingga lebih. Untuk itu jadwal masuk sekolah para siswa akan ditentukan dari situasi serta kondisi di lapangan.

Hingga saat ini, jumlah korban tewas akibat banjir Jakarta, Bekasi, dan Tangerang Selatan ini sudah mencapai empat orang. Sedangkan masih ada dua orang lainnnya yang dinyatakan hilang. Korban ini terdiri dari dua korban yang hanyut, satu korban terlibat insiden lalu lintas, serta satu korban lainnya tersengat listrik. Dua korban hilang ini berada di Tangerang Selatan.

Anies Baswedan Disebut Walhi Kurang Tegas Tangani Banjir Jakarta

Comment

News Feed